Pesta demokrasi sudah didepan mata, akan tetapi ada beberapa juga yang apatis terhadap politik. Riuh pilkada kini telah menyebar di berbagai kabupaten, kota ataupun provinsi yang menyelenggarakan demokrasi di tingkatan lokal. Sebagai seorang akademisi (mahasiswa) sudah seyogyana mengambil peran penting diberbagai kehidupan termasuk di dunia politik.

Untuk itu, Politeknik Harapan Bersama mengadakan kuliah umum pendidikan kewarganegaraan yang dihadiri mahasiswa semester 1 kelas A dan B pada tanggal 30 januari 2019 pukul 08.00 WIB. Dengan dihadiri oleh Drs S Firdaus, M.Si selaku Pembicara yang sekaligus merupakan Pakar Politik dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas jendral Sudirman dan Prasetya Putra Nugraha,M.Pd yang merupakan dosen Politeknik Harapan Bersama selaku Moderator. Kegiatan ini bertempat di ruang kelas mesin kampus 2 Politeknik Harapan Bersama dengan bertemakan “ Peran dan Partisipasi Mahasiswa dalam Pesta Demokrasi “.

Mahasiswa berperan pada poitik tidak harus terjun langsung dibidang politik namun keikutsertaannya memilih termasuk ikut berpartisipasi pada pesta demokrasi. Karena itu dengan diadakannya kegiatan kuliah umum ini, bertujuan menjadikan mahasiswa sebagai agen dalam meningkatkan partisipasi pemilih menjadikan mahasiswa sebagai pilar dalam menjaga kondusifitas pesta demokrasi serta menjadikan mahasiswa sebagai pemilih yang cerdas. Keikutsertaan pemuda terhadap pesta demokrasi akan menambah rasa nasionalisme, dengan tetap menjadi pemilih cerdas memilih calon pemimpin berdasarkan kinerja dan kreadibilitasnya selama ini

Mahasiswa, seyogyanya tidak alergi dengan parti politik dan berpartisipasi dalam setiap proses pembangunan politik termasuk berpartisipasi dalam pemilu. Sebagai insan yang kritis tetunya mahasiswa harus aktif melakukan control dan pengawasan terhadap setiap proses politik yang berlangsung, termasuk pemili 2019 ini, Tipologi mahasiswa daam kaitannya dengan politik (pemilu) setidaknya adalah mahasiswa yang pro dan aktif berpolitik, mahasiswa yang anti dan apatis (golput) dan mahasiswa biasa.

Tentunya pemilu adalah hak kita untuk memilih pemimpin yang berkompeten untuk memimpin  Negara, tentunya kita tidak ingin hak kita digunakan dengan salah. Dengan tidak memilih, kita membiarkan orang lain memilih pilihan yang bisa saja tidak dilihat kinerja dan kreadibilitas calon pemimpin.