Bagikan Bibit Pepaya di Masa Pandemi

Pengabdian masyarakat sebagai salah satu amanat Tri Dharma Perguruan Tinggi untuk dosen diimplementasikan Dosen Politeknik Harapan Bersama (PHB) Tegal Bahri Kamal S.E., M.M dengan mengadakan Kegiatan Budidaya dan Pembagian Bibit Pepaya di Perumahan Grand Panorama, RT 8 RW 1, Desa Karangjati, Kecamatan Tarub, Kabupaten Tegal.

Menurut Bahri, dalam situasi pandemi Covid-19 ini, kegiatan di rumah harus tetap produktif sesuai anjuran Pemerintah. Di sela-sela kesibukannya, Bahri sendiri menyempatkan budidaya pepaya yang disenanginya, mengingat latar belakang orang tuanya adalah seorang petani. Awal munculnya ide budidaya pepaya adalah melihat sekitar rumah masyarakat di pedesaan masih banyak lahan kosong.

Bahri mengedukasi proses pembuatan bibit, juga membagikan bibit ke masyarakat sekitar untuk ditanam di halaman depan rumah atau di pekarangan belakang rumah. Pepaya dipilih karena secara georafis daerah Tegal cocok untuk budidaya ini. Perawatannya mudah dan pemanenan relatif cepat. Selain itu, pepaya dapat tumbuh sepanjang tahun, selama nutrisi dalam tanah terpenuhi melalui pemupukan.

"Kegiatan ini untuk berbagi ilmu dan memberi edukasi. Saya bagikan bibit kepada masyarakat untuk ditanam di halaman rumah atau pekarangan, sehingga memberi nilai ekonomi untuk masyarakat," kata Bahri, Senin (8/6).

Apa yang dilakukan Bahri disambut antusias masyarakat. Ketua RT 8 RW 1 Khamdani menilai hal tersebut sangat positif. Hasil pembibitan ditanam di sekitar perumahan karena banyak lahan yang masih kosong. Di samping menghasilkan pepaya, juga sebagai sarana penghijauan.

Hal serupa disampaikan warga perumahan, Saekhu. Hasil yang didapatkan dari panen bisa menambah kas perumahan, jadi tidak mengandalkan pada iuran bulanan untuk membayar sampah dan keamanan di perumahan.

Menurut Ketua RW 1 Moh Tofik, kegiatan ini berpotensi dikelola Badan Usaha Milik Desa, karena banyak tanah desa yang bisa dijadikan lahan pertanian budidaya pepaya ini. "Sehingga pendapatan desa akan lebih bertambah. Pepaya itu buah yang unik, daun dan batang pohonnya pahit, tapi buahnya rasanya manis," ungkap Tofik.

Warga pedesaan Karangjati A. Makhfud dan Suhari mengungkapkan, kegiatan ini sangat membantu warga di masa pademi ini. Warga bisa mendapatakan bibit gratis yang siap tanam, karena pendapatan sedang berkurang. Dengan banyak waktu luang di rumah, warga bisa belajar tentang budidaya ini.

"Mengingat di pedesaan banyak lahan yang kosong. Tentunya secara ekonomi bisa membantu keuangan rumah tangga," jelas Makhfud.

@bunghasta
10 Juni 2020 16:59:02 WIB
Share:

Tinggalkan Komentar

Email dan No. HP tidak akan kami publikasikan