Era Disrupsi dan Masa Depan Vokasi

Keahlian spesialis adalah tuntutan zaman. Keahlian spesialis adalah kunci kesuksesan. Pemahaman ini bersemayam cukup lama mengiringi kehidupan modern. Saat ini pandangan itu mulai dipertanyakan kalau tidak boleh dibilang digugat. Keahlian spesialis penting dimiliki, tapi jauh lebih penting dikuasai adalah keterampilan generalis. Tak kurang dari David Epstein lewat karya berjudul Range mengupas panjang lebar soal pentingnya keahlian generalis.

Sejalan dengan pandangan Epstein, era disrupsi telah memberi sinyal kuat akan surutnya masa emas spesialisasi. Era disrupsi ditandai terjadinya inovasi dan perubahan besar-besaran yang secara fundamental mengubah tatanan yang ada ke dalam cara-cara baru. Pada era ini tak ada lagi tatanan atau sistem yang aman dan kuat. Inovasi baru bisa menggulung semua yang sudah ada tanpa ampun.

Siapapun di hari ini yang tidak adaptif terhadap perubahan dan tidak berani melakukan inovasi, akan potensial untuk tergilas. Perusahaan besar sekelas Nokia dan Kodak adalah contoh “korban” yang jatuh gegara lamban melakukan perubahan.

Tak hanya perusahaan, banyak jenis keahlian juga berpotensi tergusur. Semakin spesifik keahlian semakin potensial tergantikan oleh perangkat teknologi.  Banyak jenis pekerjaan hari ini sudah mulai tergusur oleh kehadiran teknologi. Pun banyak muncul jenis pekerjaan baru sebagai akibat inovasi baru. Mengandalkan satu keahlian di era disrupsi potensial terlempar dari arena kompetisi.

Bagaimana dengan dunia pendidikan? Sama saja. Institusi pendidikan tidak lepas dari tekanan ancaman era disrupsi. Beberapa alasannya, pertama, dunia pendidikan tak lagi jadi pusat pengetahuan dan belajar. Dahulu guru dan dosen menjadi narasumber utama ilmu pengetahuan. Ini terjadi lantaran guru dan dosen lebih dahulu belajar, sementara akses pengetahuan relatif terbatas. Saat ini akses pengetahuan tersedia dan terbuka secara melimpah.  

Kedua, dengan akses yang kian terbuka banyak pihak berkesempatan berbagi pengalaman, pengetahuan maupun keterampilan, bahkan diberikan secara cuma-cuma. Hari ini tak ada alasan bagi siapa saja yang tak bisa belajar tentang apa saja. Dunia pendidikan yang tak siap terhadap situasi baru ini bisa berakibat buruk terhadap keberlanjutannya. 

Ketiga, sejumlah perusahaan besar dunia melakukan rekrutmen karyawan tanpa mempertimbangkan latar belakang pendidikan. Pada posisi ini kompetensi menjadi ukuran utama terlepas dari mana ilmu yang didapatkan berasal. Jika pola rekrutmen semacam ini terus berkembang hampir bisa dipastikan akan menjadi “sinyal buruk” dunia pendidikan.

Masa Depan Vokasi

Sama-sama menghadapi tekanan perubahan, pendidikan vokasi relatif masih lebih punya peluang untuk bertahan. Dunia vokasi yang mengedepankan praktik langsung memberi nilai keunggulan tersendiri. Teori dan informasi tersaji melimpah di dunia maya, namun untuk menguasai sebuah kompetensi memerlukan pengalaman dan penghayatan praktik yang memadai.  Disinilah letak keunggulan vokasi. 

Namun begitu, kelebihan praktik saja tak cukup. Sebagaimana pandangan Epstein, sekolah vokasi perlu melengkapi siswanya dengan cakrawala pandang yang luas, semangat belajar yang tinggi serta dibuka kesempatan luas mengembangkan diri sepanjang waktu belajar di sekolah.


Penulis:

Gunawan Adib Achmadi

Wakil Direktur III Politeknik Harapan Bersama


*Tulisan ini telah dimuat di koran Suara Merdeka pada Senin, 4 April 2022.


Admin Humas
04 April 2022 11:13:25 WIB
Share:

Tinggalkan Komentar

Email dan No. HP tidak akan kami publikasikan
Virtual Tour
Hubungi Kami