Membanggakan, Mahasiswi Farmasi Tegal Masuk 10 Besar Nasional

Uji Kompetensi Tenaga Teknis Kefarmasian (UKTTK) merupakan salah satu upaya penjaminan yang harus dilalui para tenaga kesehatan khususnya Diploma 3 Farmasi dan Diploma 3 Analisis Farmasi dan Makanan.

Pada UKTTK 2020, Fitri, salah seorang mahasiswi Program Studi D3 Farmasi Politeknik Harapan Bersama Tegal memperoleh penghargaan sebagai peraih peringkat kesembilan nilai tertinggi nasional pada UKTTK 2020. Penghargaan tersebut diberikan oleh APDFI (Asosiasi Pendidikan Diploma Farmasi Indonesia).

“Intinya banyak membaca, bisa dari dari buku-buku dan internet untuk tambahan. Jangan lupa selalu berdoa agar diberikan kemudahan,” ujar Fitri pada Rabu, (2/12/2020).

Pada tanggal 10-11 Oktober 2020 dilaksanakan Uji kompetensi secara serentak di seluruh Indonesia menggunakan sistem Computer Based Testing (CBT). Dengan materi yang diujikan antara lain yaitu keterampilan teknis kefarmasian, aplikasi dasar ilmu kefarmasian, bidang teknologi farmasi, bidang bahan alam atau obat tradisional, dan semua hal yang berkaitan dengan bidang ilmu farmasi.

Fitri menuturkan kesan pertama saat melihat soal uji kompetensi ini hitungannya lebih banyak, sehingga harus menyisakan banyak waktu untuk soal hitungannya. Dengan jumlah 180 soal dan waktu 180 menit jadi harus berpikir cepat dan yang utama harus fokus. 

Selain kuliah, Fitri juga bekerja di Puskesmas Margasari. Namun, itu tidak menurunkan semangatnya untuk mencapai kesuksesan. Fitri mengaku selama ini selalu menyempatkan untuk belajar materi yang pernah diberikan dari semester satu dan menyoba soal-soal tahun sebelumnya. 

 “Saya juga punya grup diskusi via whatsapp untuk membahas soal dengan teman-teman yang dibuat oleh Ibnu. Namanya grup Sinau Ukom Santai,” tegas Fitri.

Berawal dari inisiatif salah satu staf akademik Prodi Farmasi PHB Ibnu Taruna Pratama terbentuklah grup untuk berdiskusi materi uji kompetensi. Ibnu menyampaikan mahasiswa sudah mendapat materi pembekalan dari prodi, namun dirasa sangat kurang mengingat materi yang diujikan dalam uji kompetensi sangatlah banyak. 

“Awalnya hanya beberapa yang bergabung, ternyata banyak mahasiswa yang tertarik untuk masuk grup diskusi tersebut hingga sekitar 160 orang yang bergabung. Selain itu juga ada alumni yang masuk untuk membimbing adik tingkatnya,” kata Ibnu. 

“Mahasiswa berperan aktif dalam diskusi, jadi nanti ada yang mengirim soal dan beberapa yang menjawab atau menanggapi. Apabila ada yang ketinggalan, saya juga menyiapkan rekapan sehingga bisa dibaca ulang oleh para mahasiswa,” lanjut Ibnu.

Dengan adanya pandemi ini tentu tidak menyurutkan semangat para mahasiswa. Belajar dan diskusi bisa melalui media sosial. Waktu yang lebih fleksibel dan tetap sehat dengan di rumah saja.(Penulis: Widiya Nur Hayati)

Tinggalkan Komentar

Email dan No. HP tidak akan kami publikasikan