Perguruan Tinggi Perlu Tingkatkan Kualifikasi Dosen

200 Dosen Ikuti Workshop PAK


Politeknik Harapan Bersama (PHB) bekerja sama dengan Asosiasi Pendidikan Informatika dan Komputer (APTIKOM) Jateng menggelar workshop virtual Penilaian Angka Kredit (PAK) Jabatan Fungsional Dosen Kemendikbud Dikti pada Kamis, (01/07) melalui aplikasi Zoom meeting.


Workshop tersebut dihadiri oleh 200 peserta baik dosen maupun tenaga pendidik dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Dalam sambutannya Direktur Politeknik Harapan Bersama Nizar Suhendra, S.E., MPP menyampaikan pentingnya acara ini untuk standardisasi mutu dan pelayanan pendidikan.


“Jabatan fungsional kita butuhkan, dan menjadi penting untuk standarisasi pelayanan dan mutu pendidikan yang kita berikan kepada peserta didik. Dalam setiap tingkatan jabatan fungsional yang ditempuh, semakin besar tanggung jawab kita untuk ikut terlibat melahirkan manusia yang memiliki akhlak berwatak mulia,” kata Nizar.


Ketua APTIKOM Wilayah Jawa Tengah Prof. Dr. Suryono, S.Si., M.Si mengungkapkan jabatan fungsional bukan masalah pribadi oleh dosen yang mendapatkan itu, di balik itu terdapat suatu hal yang menjadi pikiran bersama.


“Salah satu predikat baik agar dimiliki oleh suatu perguruan tinggi, dosen-dosennya perlu memiliki kualifikasi yang baik pula,” kata Prof. Dr. Suryono, 


Terdapat surat Edaran Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi No 638/E.E4/KP/2020 tentang pelaksanaan pedoman operasional penilaian angka kredit kenaikan jabatan fungsional/pangkat dosen. Dan terkait Surat Edaran Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi No. 4 Tahun 2021 tentang pedoman operasional penilaian angka kredit kenaikan jabatan akademik/pangkat dosen.


Prof. Dr. Sutikno, ST., M.T, selaku narasumber dari tim PAK DIKTI menjelaskan terdapat beberapa tantangan yang dihadapi oleh para dosen, yaitu pertumbuhan mahasiswa internal yang cepat, perkembangan pendidikan yang masif, perkembangan teknologi informasi yang pesat, persyaratan akuntabilitas yang ketat dan tuntutan pekerjaan manajerial di universitas yang meningkat. 


“Inovasi kebijakan dalam instrumen penilaian angka kredit, seperti kesetaraan karya ilmiah, kepemimpinan akademik, penelitian dan publikasi kolaboratif, penelitian bidang interdisiplin, penelitian berdampak, wawasan dan pemikiran inovatif, mutu substansi luaran kegiatan, standar minta baca, pembelajaran inovatif dan kegiatan berorientasi pengguna,” ucap Prof. Dr. Sutikno (Humas PHB/Ais. Foto : Panitia)


Tinggalkan Komentar

Email dan No. HP tidak akan kami publikasikan